MAKALAH
AUDITING II
“Audit siklus Persediaan dan pergudangan”
Oleh:
Kelompok 3
Risha
Zulfikar (011401325)
Silvia
istimeirianti (0116101425)
Krishelda
Gloris P (0116101420)
Sani
Sanjaya (0116101436)
Nisa
Nadhira
(0116101441)
Teta
Sakti Paly (0118121005)
Aditya
Salman F (0118121008)
Kelas
: J
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Auditing II
Dosen : Robertus Ary Novianto, S.E., M.M., Ak.
Mata Kuliah Auditing II
Dosen : Robertus Ary Novianto, S.E., M.M., Ak.
UNIVERSITAS
WIDYATAMA
Jalan Cikutra no 204 A Bandung
Jawa Barat Indonesia 40124
Jawa Barat Indonesia 40124
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami
dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang
sangat sederhana. Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk memenuhi
tugas dari mata kuliah Auditing II.
Harapan kami semoga makalah ini dapat
bermanfaat serta membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca.
Makalah ini kami akui masih banyak
kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu
kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Bandung, April 2019
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................. 1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Fungsi- fungsi Bisnis Dalam Siklus Serta Dokumen Dan
Catatan Terkait........ 2
2.2.
Dampak E-Commers Terhadap Manajemen Persediaan.................................... 5
2.3.
Bagian Bagian Dan Audit Atas Persediaan........................................................ 5
2.4.
Audit Atas Akuntansi Biaya............................................................................... 8
2.5.
Prosedur Analitis............................................................................................... 13
2.6.
Pengujian Terinci Atas Saldo Atas Persediaan................................................. 13
2.7.
Pengamatan Fisik Persediaan............................................................................ 14
2.8.
Audit Atas Penetapan Harga Dan Kompilasi Persediaan................................. 17
2.9.
Memadukan Pengujian...................................................................................... 23
2.10. Contoh Kasus Persediaan dan Pemeriksaan Fisik........................................... 25
2.11. Contoh Berita Acara Pemeriksaan Persediaan (BAP).................................... 29
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan...................................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 31
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Siklus persediaan dan pergudangan
merupakan siklus yang unik karena hubunganya yang erat dengan siklus transaksi
lainya. Bagi perusahaan manufaktur,bahan baku memasuki siklus persediaan dan
pergudangan dari siklus akuisisi dan pembayaran,sementara tenaga kerja langsung
memasukinya dari siklus penggajian dan personalia.Siklus persediaan dan
pergudangan diakhiri dengan penjualan barang dalam siklus penjualan dan
penagihan.Audit terhadap persediaan, terutama pengujian saldo persediaan akhir
tahun, sering kali merupakan bagian yang paling kompleks dan paling
menghabiskan waktu audit. Seperti di tunjukan oleh audit Phar-Mor, menemukan salah
saji dalam akun persediian dapat menjadi hal yang cukup menantang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan dalam latar
belakang masalah maka permasalahan yang dapat dibahas dapatdirumuskan sebagai
berikut :
- Apa saja fungsi bisnis dalam siklus serta dokumen dan catatan terkait?
- Bagaimana dampak e-commers terhadap manajemen
persediaan?
- Apa saja bagian bagian dan audit atas persediaan?
- Bagaimana Audit atas akuntansi biaya?
- Bagaimana prosedur analitis yang dilakukan?
- Bagaimana pengujian terinci atas saldo atas persediaan?
- Bagaimana cara pemngamatan fisik persediaan?
- Bagaimana audit atas penetapan harga dan kompilasi
persediaan?
- Bagaimana cara memadukan pengujian?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Fungsi - fungsi Bisnis Dalam Siklus Serta Dokumen dan Catatan Terkait
Siklus persediaan dan pergudangan dapat dikatakan adalah paduan dari dua
sisitem yang terpisah tapi erat berhubungan. Yang pertama adalah arus
barang secara fisik, dan yang kedua adalah biaya yang terkait. Selama
persediaan bergerak dalam perusahaan,harus ada pengendalian yang cukkup baik
atas pergerakan fisik maupun biaya-biaya yang terkait. Pemeriksaan sekilas
terhadap enam fungsi yang membentuk siklus persediaan dan pergudangan akan
membantu untuk memahami pengendalian tersebut dan bahan bukti audit yang
diperlukan untuk menguji efektifitasnya.
2.1.1
Memproses Pesanan Pembelian
Permintaan pembelian digunakan untuk meminta bagian pembelian untuk
meng-order barang persediaan. Permintaan dapat diajukan pegawai gudang pada
saat persediaan mencapai tingkat tertentu, untuk material yang akan digunakan
memproduksi order tertentu pelanggan, atau dilakukan atas dasar perhitungan
periodik dari personil yang berwenang. Apapun metode yang digunakan,
pengendalian atas permintaan pembelian dan order pembelian yang terkait harus
dievaluasi dan diuji sebagai bagian dari siklus perolehan dan pembayaran.
2.1.2 Menerima
Bahan Baku Baru
Penerimaan barang yang di order adalah bagian dari siklus perolehan dan
pembayaran. Barang diterima harus diperiksa kuantitas dan kualitasnya. Bagian
yang menerima membuat laporan penerimaan barang yang menjadi bagian dari dokumentasi
yang perlu sebelum pembayaran dilakukan setelah inspeksi, barang dikirim ke
gudang dan dokumen penerimaan dikirimkan kebagian pembelian, gudang dan hutang
usaha.
2.1.3 Menyimpan
Bahan Baku
Setelah barang diterima, penyimpanan dilakukan di gudang sampai saatnya
dibutuhkan untuk proses produksi. Barang tersebut dikeluarkan gudang setelah
ada permintaan yang diotorisasi, perintah kerja, dan dokumen lain yang
menyebutkan jenis dan jumlah barang yang diminta.dokumen permintaan ini
dugunakan untuk manufaktur berkas induk persediaan perpetual dan membukukan
perpindahan dari akun bahan baku ke akun barang dalam proses.
2.1.4 Memproses
Barang
Proses pengerjaan barang dalam siklus persediaan dan pergudangan sangat
bervariasi untuk masing-masing perusahaan. Besarnya jumlah barang yang akan
diproduksi secara umum dipengaruhi order pelanggan. Ramalan penjualan, tingkat
persediaan barang jadi yang telah ditetapkan, dan ekonomis tidaknya proses
produksi seringkali bagian pengandalian produksi, harus dibuat ketentuan yang
mengatur kuantitas produksi, pengendalian barang rusak, pengawasan kualitas dan
perlindungan fisik terhadap barang dalam proses. Bagian produksi harus
mengadakan laporan produksi dan barang rusak sehingga catatan akuntansi dapat
mencerminkan pergerakan barang dan biaya produksi yang akurat.
Dalam perusahaan manufaktur struktur pengendalian intern akuntansi biaya
yang baik adalah bagian penting dari fungsi proses barang. Struktur
pengendalian intern diperlukan untuk menunjukkan profitabilitas relatif berbagai
produk, untuk perencanaan dan pengendalian, dan untuk menilai persediaan bagi
tujuan pelaporan keuangan. Ada dua jenis sistem biaya secara umum, walaupun
banyak variasi dan kombinasi dalam praktik: sistem job-order (pekerjaan order)
dan proces cost (biaya proses).perbedaan utamanya adalah pada job-order biaya
yang timbul diakumulasikan pada suatu pekerjaan orde tertentu, dan pada
proces-cost biaya per unit produksi dialokasikan kepada tiap barang proses.
Catatan akuntansi biaya terdiri dari berkas induk, neraca lajur dan laporan dan laporan yang menunjukkan akumulasi bahan, upah, dan biaya overhead dari suatu pekerjaan atau proses saat biaya-biaya itu timbul sewaktu pengerjaan atau produk selesai, biaya yang timbul dipindahkan dari barang dalam proses ke barang jadi didasarkan laporang bagian penerimaan kas.
Catatan akuntansi biaya terdiri dari berkas induk, neraca lajur dan laporan dan laporan yang menunjukkan akumulasi bahan, upah, dan biaya overhead dari suatu pekerjaan atau proses saat biaya-biaya itu timbul sewaktu pengerjaan atau produk selesai, biaya yang timbul dipindahkan dari barang dalam proses ke barang jadi didasarkan laporang bagian penerimaan kas.
2.1.5 Menyimpan
Barang Jadi
Setelah barang jadi selesai dikerjakan bagian produksi, penyimpanan
dilakukan digudang menunggu pengiriman. Dalam perusahaan dengan sisitem
pengendalian intern yang baik, dilakukan pengendalian fisik atas barang jadi
dengan memisahkannya dalam beberapa area dengan akses terbatas. Pengendalian
barang jadi biasanya dianggap bagian dari siklus penjualan dan penerimaan kas.
2.1.6 Mengirimkan
Barang Jadi
Pengiriman barang jadi adalah bagian integral dari siklus penjualan dan
penerimaan kas. Tiap pengiriman atau pengeluaran barang jadi harus didukung
dokumen pengiriman yang diotorisasi dengan memadai. Pengendalian untuk
pengiriman telah dibahas pada bab sebelumnya.
2.1.7 File
Induk Persediaan Perpetual
Satu bentuk catatan yang belum di bahas sebelumnya adalah berkas induk
persediaan perpetual. Catatan pepetual yang terpisah biasanya diadakan untuk
pencatatan bahan baku dan barang jadi. Kebanyakan perusahaan tidak menggunakannya
untukbarang dalam proses.
Berkas induk persediaan perpetual hanya memasukkan informasi mengenai jumlah unit persediaan yang dibeli, dijual dan yang tersimpan atau infomasi mengenai biaya per unit. Untuk yang terakhir biasanya terdapat pada sisitem yang terencana dan terkomputerisasi.
Untuk pembelian bahan baku, berkas induk persediaan perpetual diperbaharui secara otomatis pada saat pembelian bahan diproses dalam sistem pencatatan transaksi perolehan. Misalnya, saat sistem komputer memasukkan jumlah unit dan biaya tiap pembelian bahan, informasi ini digunakan untuk memutakhirkan berkas induk persediaan perpetual bersama dengan jurnal perolehan dan berkas induk hutang usaha. Bab 16 menguraikan bagaimana pencatatan transaksi pembelian.
Berkas induk persediaan perpetual hanya memasukkan informasi mengenai jumlah unit persediaan yang dibeli, dijual dan yang tersimpan atau infomasi mengenai biaya per unit. Untuk yang terakhir biasanya terdapat pada sisitem yang terencana dan terkomputerisasi.
Untuk pembelian bahan baku, berkas induk persediaan perpetual diperbaharui secara otomatis pada saat pembelian bahan diproses dalam sistem pencatatan transaksi perolehan. Misalnya, saat sistem komputer memasukkan jumlah unit dan biaya tiap pembelian bahan, informasi ini digunakan untuk memutakhirkan berkas induk persediaan perpetual bersama dengan jurnal perolehan dan berkas induk hutang usaha. Bab 16 menguraikan bagaimana pencatatan transaksi pembelian.
Pemindahan bahan baku dari gudang harus dibukukan terpisah dalam komputer
untuk memperbaharui catatan perpetual persediaan. Hanya jumlah unit barang yang
dipindahakan yang perlu dibukukan karena komputer dapat menentukan harga per
unit nya dari berkas induk. Berkas induk perpetual persediaan bahan baku
berisi, untuk tiap jenis bahan baku,saldo awal dan akhir unit barang dan harga
per unitnya, jumlah dan biaya per unit tiap pembelian, dan jumlah dan biaya per
unit bahan yang dikeluarkan untuk produksi.
Berkas indukperpetual persediaan barang jadi mengikutkan informasi serupa dengan bahan baku, tetapi dengan kompleksitas yang lebih besar jika catatan biaya per unit juga diikutkan. Biaya-biaya barang jadi terdiri dari bahan baku , buruh langsung dan biaya overhead yang seringkali membutuhkan alokasi dan pencatatan yang rinci jika catatan perpetual menyertakan biaya per unit, pencatatan akuntansi biayanya harus diintigrasikan dalam suatu sistem komputer.
Berkas indukperpetual persediaan barang jadi mengikutkan informasi serupa dengan bahan baku, tetapi dengan kompleksitas yang lebih besar jika catatan biaya per unit juga diikutkan. Biaya-biaya barang jadi terdiri dari bahan baku , buruh langsung dan biaya overhead yang seringkali membutuhkan alokasi dan pencatatan yang rinci jika catatan perpetual menyertakan biaya per unit, pencatatan akuntansi biayanya harus diintigrasikan dalam suatu sistem komputer.
2.2 Dampak E-Commers
Terhadap Manajemen Persediaan
Manfaat
utama internet untuk mengelola persediaan adalah untuk menyediakan informasi
lengkap mengenai persediaan mereka berbasis real time kepada rekan bisnis,
diantara para pemasok dan pelanggan. Informasi mengenai jumlah yang disimpan,
lokasi produk dan data lainnya membantu para pemasok bekerja sama dengan
manajemen untuk mengawasi aliran persediaan. Pelanggan biasanya meminta
informasi langsung atas data persediaan, seperti informasi ketersediaan produk,
status pengiriman dan pesanan, kualitas produk, tingkat kepercayaan dan
spesifikasi kompatibilitas untuk diintegrasikan dengan produk lainnya. Internet
seperti halnya Local area network (LAN) internal lainnya juga membantu
manajemen memantau laporan status persediaan.
Selain
kemudahan-kemudahan yang ada, akses informasi oleh pelanggan dan
vendor dapat juga meningkatkan risiko bisnis. Misalnya adalah
menimbuklan risiko pelaporan keuangan jikaakses ke database persediaan tidak
dilakukan pembatasan akses keamanan dan pengendalianmanajemen IT lainnya.
2.3 Bagian Bagian Dan Audit
Atas Persediaan
Tujuan keseluruhan dari audit
siklus persediaan dan pergudangan adalah menyediakan assurance bahwa laporan
keuangan memperhitungkan secara wajar bahan baku, barang dalam proses,
persediaan barang jadi, dan harga pokok penjualan. Audit siklus persediaan dan
pergudangan dapat dibagi menjadi lima aktivitas yang berbeda dalam siklus:
- Mengakuisisi dan mencatat
bahan baku, tenaga kerja, dan overhead.
- Mentransfer secara internal
aset dan biaya.
- Mengirimkan barang dan
mencatat pendapatan serta biaya.
- Mengamati persediaan secara
fisik.
- Menetapkan harga dan
kompilasi persediaan.

![]() |
|
|||||
|
|
|
|
|
|
|
||||||||||
![]() |
|||||||||||
![]() |
|||||||||||
|
|||||||||||
Bagian audit ini meliputi tiga
fungsi pertama dalam Gambar 2-1. Hal tersebut mencakup pemrosesan pesanan
pembelian, penerimaan bahan baku, dan penyimpanan bahan baku. Auditor akan
memahami pengendalian internal terhadap ketiga fungsi tersebut dan kemudian
melaksanakan pengujian pengendalian seta pengujian substantif atas transaksi
baik dalam siklus akuisisi dan pembayaran maupun siklus penggajian dan
personalia. Pengujian tersebut harus memenuhi tujuan auditor bahwa pengendalian
yang mempengaruhi akuisisi bahan baku dan biaya manufaktur telah beroperasi
secara efektif, serta transaksi akuisisi telah dinyatakan secara benar. Jika
tenaga kerja langsung merupakan bagian yang signifakn dari persediaan yang
dibuat, auditor harus memverifikasi akuntansi yang layak untuk biaya-biaya
tersebut dalam siklus penggajian dan personalia.
Transfer internal persediaan
meliputi fungsi keempat dan kelima pada gambar
memroses barang dan menyimpan barang jadi. Klien memperhitungkan
aktivitas tersebut dalam catatan akuntansi biaya, yang independen dengan siklus
lainnya dan diuji sebagai bagian dari audit siklus persediaan dan pergudangan.
Pencatatan pengiriman dan biaya
terkait merupakan fungsi terakhir yang diperlihatkan pada gambar. Karena fungsi
tersebut merupakan bagian dari siklus penjualan dan penagihan, auditor harus
memahami dan menguji pengendalian internal terhadap pencatatan pengiriman
sebagai beban dari audit siklus tersebut, termasuk prosedur untuk memverifikasi
keakuratan pengkreditan ke persediaan yang dicatat dalam file induk persediaan
perpetual.
Auditor harus mengamati klien yang
melakukan perhitungan fisik persediaan untuk menentukan apakah persediaan yang
tercatat benar-benar ada pad tanggal neraca dan dihitung secara benar oleh
klien. Pemeriksaan fisik merupakan jenis bukti yang penting yang digunakan
untuk memvetifikasi keberadaan dan perhitungan persediaan.
Biaya yang digunakan untuk menilai
persediaan harus diuji guna menentukan apakah klien telah mengikuti secara
benar metode persediaan yang sesuai baik dengan standar akuntansi maupun
konsisten dengan tahun sebelumnya.
Prosedur audit yang digunakan untuk memverifikasi biaya-biaya tersebut
sebagai pengujian harga. Selain itu, auditor juga harus melaksanakan pengujian
kompilasi persediaan (inventory compilation tests), yang
merupakan pengujian untuk memverifikasi apakah perhitungan fisik telah
diikhtisarkan secara benar, kuantitas dan harga persediaan telah dikalikan
dengan benar, dan persediaan yang dikalikan difooting secara benar pada saldo
persediaan buku besar umum yang sama.
|
Gambar 2-2
|
|||||
![]() |
|||||
|
|||||
![]() |
|||||
Gambar 2-2 mengikhtisarkan lima
bagian audit siklus persediaan dan pergudangan. Karena keterkaitan antara
siklus persediaan dan pergudangan dengan siklus yang lainnya, beberapa bagian
audit persediaan akan lebih efisien jika diuji dengan pengujian audit antar
siklus lainnya. Seperti disajikan pada gambar diatan, auditor menguji akuisisi
dan pencatatan bahan baku, tenaga kerja, serta overhead sebagai bagian
dari audit atas siklus akuisisi dan
pembayaran serta siklus penggajian dan personalia. Selain itu, mereka juga
menguji pengiriman barang dan pencatatan pendapatan serta biaya terkait dalam
audit siklus penjualan dan penagihan.
Pengamatan fisik persediaan serta
penetapan harga dan kompilasi persediaan itu diaudit dengan menggunakan
prosedur analitis dan pengujian atas rincian saldo. Untuk pengujian atas
rincian saldo auditor harus mempertimbangkan risiko bisnis dan inheren, menetapkan
materialitas kinerja persediaan, serta mengevaluasi hasil pengujian
pengendalian dan pengujian sebstantif atas transaksi bagi transaksi dan
aktivitas di tiga kotak pertama.
2.4 Audit Atas Akuntansi
Biaya
Audit akuntansi biaya dimulai
dengan transfer internal aset bahan baku ke daka proses persediaan barang jadi.
Hal ini berfokus pada sistem dan pengendalian yang berhubungan dengan transfer
biaya persediaan, yang diperhitungkan dalam catatan akuntansi biaya.
Pengendalian akuntansi biaya (cost acoounting record) adalah
pengendalian yang berhubungan dengan pemrosesan yang mempengaruhi persediaan
fisik dan penelusuran biaya terkait dari saat bahan baku diminta hingga produk
selesai dibuat dan ditransfer ke penyimpanan. Jadi pengendalian tersebut dapat
dibagi ke dalam dua kategori luas:
1.
Pengendalian fisik terhadap bahan
baku, barang dalam proses dan persediaan barang jadi.
2.
Pengendalian terhadap biaya
terkait.
Hampir semua perusahaan memerlukan pengendalian fidik
terhadap assetnya untuk mencegah kerugian akibat penyalahgunaan dan pencurian.
Untuk melindungi aset, sebagian besar perusahaan memisahkan secara fisik dan
membatasi akses ke area penyimpanan bahan baku, barang dalam proses, serta
barang jadi untuk mengendalikan pergerakan persediaaan.
Dalam beberapa contoh, manajer
menugaskan penjagaan persediaan kepada individu yang bertanggungjawab
melindungi persediaan. Klien dapat menggunakan dokumen yang telah dipranomori
untuk mengotorisasi pergerakan persediaan guna melindungi aset dari penggunaan
yang tidak tepat. Salinan dokumen tersebut harus diserahkan langsung ke bagian
akuntansi oleh orang yang mengeluarkannya tanpa melalui orang yang
bertanggungjawab menjaga aset. Contoh dokumen ini yang efektif adalah
permintaan bahan yang disetujui untuk memperoleh bahan baku dari ruang
penyimpanan.
File induk persediaan perpetual
yang disimpan oleh orang yang tidak bertanggung jawab atau memiliki akses ke
aset merupakan pengendalian akuntansi biaya lainnya yang bermanfaat karena
sejumlah alasan:
·
File tersebut menyediakan catatan
persediaan yang ada di tangan, yang digunakan untuk memulai produksi atau
akuisisi bahan baku atau barang tambahan.
·
File tersebut meyediakan catatan
penggunaan bahan baku dan penjualan barang jadi, yang dapat diriview untuk
melihat item-item yang usang atau bergerak lambat.
·
File tersebut menyediakan catatan
untuk mempertanggungjawabkan apabila ditemukan selisih antara perhitungan fisik
dan jumlah yang tersaji pada lissing atau daftar perpetual.
Selain itu , pengendalian internal
yang memadai yang mengintegrasikan catatan produksi dan akuntansi guna
menyajikan biaya yang akurat bagi semua produk juga merupakan hal yang penting
untuk membantu manajemen dalam menetapkan harga barang jadi, mengendalikan
biaya, serta menghitung biaya persediaan.
Pengujian Akuntansi Biaya, Konsep untuk mengaudit akuntansi
biaya persediaan tidak jauh berbeda dengan yang dibahas untuk siklus transaksi
lainnya: memahami pengendalian internal dalam sistem akuntansi biaya, menilai
risiko pengendalian yang direncanakan, menentukan luas pengujian pengendalian,
serta merancang pengujian pengendalian dan pengujian subtantif atas transaksi
untuk memenuhi tujuan audit yang berkaitan dengan transaksi. Auditor sangat
memperhatikan empat aspek akuntansi biaya berikut:
1.
Pengendalian fisik terhadap
persediaan.
2.
Dokumen dan catatan untuk
mentransfer persediaan
3.
File induk persediaan perpetual.
4.
Catatan biaya per unit
Pengendalian Fisik Auditor menguji pengendalian
fisik terhadap bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi yang umumnya
terbatas pada observasi serta pengajuan pertanyaan. Auditor dapat memeriksa
area penyimpanan bahan baku untuk menentukan apakah persediaan sudah dilindungi
dari pencurian dan penyalahgunaan dengan menggunakan kunci atau ukuran keamanan
lainnya termasuk custodian persediaan. Auditor dapat meminta custodian
persediaan untuk menjelaskan tugas-tugasnya yang terkait dengan mengawasi
persediaan yang dimonitor olehnya. Jika auditor menyimpulkan bahwa pengendalian
fisik sangat tidak memadai sehingga persediaan akan sulit dihitung secara
akrual, auditor harus memperluas observasi pengujian persediaan fidik untuk
memastikan bahwa perhitungan yang memadai telah dilakukan.
Dokumen dan Catatan untuk Mentransfer Persediaan Perhatian
auditor terutama tertuju pada memverifikasi trensfer persediaan dari satu
lokasi ke lokasi lainnya yang dicatat memang ada, semua transfer aktual sudah
dicatat, dan kuantitas, deskripsi, serta tanggal semua transfer yang dicatat sudah akrual. Produk yang diberi
label dengan kode batang terstandardisasi yang dapat dipindai oleh pembaca kode
batang laser dan teknologi lainnya akan mempermudah klien menelusuri pergerakan
barang melalui produksi.
Ketika mengaudit transfer
persediaan, pertama auditor harus memahami pengendalian internal klien untuk
mencatat transfer sebelum dapat melaksanakan pengujian yang relevan. Setelah
memahami pengendalian internal auditor dapat dengan mudah melaksanakan pengujian
pengendalian atau pengujian substantif atas transaksi dengan memeriksa dokumen
serta catatan untuk menguji tujuan keterjadian dan keakuratan bagi transfer barang dari ruang penyimpanan
bahan baku ke lini perakitan manufatur. Sebagai contoh, auditor memperhitungkan
urutan permintaan bahan baku, memeriksa permintaan apakah telah disetujui
secara layak, dan membandingkan kuantitas, deskripsi, serta tanggal dengan
informasi yang dicatat dalam file induk persediaan perpetual bahan baku untuk
memverifikasi bahwa pengendalian terkait dioprasikan secara efektif dan
jumlahnya telah dicatat dengan benar. Demikian juga, auditor dapat
membandingkan catatan produksi yang telah lengkap dengan file induk persediaan
perpetual untuk memastikan bahwa semua barang yang diproduksi telah dikirim
secara fisik ke ruang penyimpanan barang jadi.
File Induk Pesediaan Perpetual Reabilitas
file induk persediaan perpetual mempengaruhi penetapan waktu dan luas
pemeriksaan fisik persediaan oleh auditor. Jika file induk persediaan sudah
akrual, auditor dapat menguji persediaan fisik sebelum tanggal neraca.
Persediaan fisik interim dapat menghasilkan penghematan biaya yang signifikan
baik bagi klien maupun auditor, dan memungkinkan audit diselesaikan lebih awal.
Auditor juga dapat mengurangi pengujian atas perhitungan persediaan fisik
apabila klien memiliki catatan persediaan perpetual yang dapat diandalkan dan
menilai redah risiko pengendalian yang terkait dengan obeservasi fisik
persediaan.
Auditor menguji file induk persediaan perpetual dengan
memeriksa dokumentasi yang mendukung penambahan dan pengurangan jumlah
persediaan dalam file induk. Sebagai contoh, sebagai bagian dari pengujian atas
catatan perpetual, auditor dapat memeriksa dokumen pendukung aktivitas
persediaan yang mencakup penambahan persediaan bahan baku yang diperlukan,
pengurangan persediaan bahan baku yang akan digunakan dalam produksi, kenaikan
persediaan barang jadi ketika barang telah selesai produksi, dan penurunannya
ketika barang jadi telah terjual. Biasanya, relatif mudah menguji keakuratan
file induk persediaan perpetual setelah auditor menentukan kememadaian
rancangan dan implementasi pengendalian internal persediaan serta tingkat
penilaian resiko pengendalian terkait. Auditor menguji catatan perpetual untuk
akuisisi bahan baku dalam siklus akuisisi dan pembayaran, sementara pengurangan
barang jadi untuk penjualan diuji dalam siklus penjualan dan penagihan.
Bagi banyak perusahaan, satu-satunya dokumen tradisional
yang ada adalah dalam bentuk elektronik dan sistem persediaan perpetualnya
terintegrasi dengan siklus akuntansi lainnya. Akibatnya, auditor dapat menguji
pengendalian komputer untuk mendukung pengurangan risiko pengendalian, yang
akan mengurangi penjualan substantif sehingga audit menjadi lebih efisien.
Catatan Biaya Per Unit Keakuratan
data biaya bahan baku, tenaga kerja langsung dan overhead manufaktur sangatlah
penting untuk menyatakan secara wajar persediaan bahan baku, barang dalam
proses dan barang jadi. Agar data biayanya akurat, klien harus mengintegrasikan
catatan akuntansi biayanya dengan catatan produksi dan akuntansi lainnya.
Ketika menguji catatan biaya
persediaan, pertama auditor harus memahami pengendalian internal dalam sistem
akuntansi biaya. Pemahaman ini dapat menghabiskan banyak waktu karena arus
biaya diintegrasikan dengan catatan akuntansi dalam tiga siklus lainnya:
akuisisi dan pembayaran, penggajian dan personalia, serta penjualan dan
penagihan.
Setelah auditor memahami:
pengendalian internal yang mempengaruhi catatan akuntansi biaya, pendekatan
untuk melakukan verifikasi internal atas catatan akuntansi biaya akan
meelibatkan konsep yang sama dengan dibahas dalam verifikasi atas transaksi
akuisisi, penggajian dan penjualan. Biasanya auditor menguji catatan akuntansi
biaya sebagai bagian dari pengujian akuisisi, penggajian dan penjualan untuk
menghindari menguji catatan lebih dari satu kali dan untuk meningkatkan
efisiensi audit. Ketika menguji transaksi akuisisi, auditor harus menelusuri
unit dan biaya per unit bahan baku ke penambahan yang dicatat dalam file induk
persediaan perpetual serta total biaya ke catatan akuntansi biaya. Demikian
juga, jika klien menyimpan data biaya penggajian atas pekerjaan yang catatan
biaya pekerjaan ketika mengaudit penggajian.
Menentukan kewajaran biaya overhead
manufaktur yang dibebankan ke barang dalam proses sangatlah menantang bagi
auditor karena manajemen harus membuat asumsi yang mempengaruhi alokasi
overhead yang dapat mempengaruhi secara signifikan biaya per unit persediaan,
sehingga penilaian persediaan menjadi wajar. Dalam mengevaluasi alokasi biaya
overhead tersebut, auditor harus mempertimbangkan kelayakan metode alokasi,
dengan mengasumsikan metode tersebut sesuai dengan standar akuntansi dan apakah
diterapkan secara konsisten.
Biasanya manajemen mengalokasikan
overhead dengan menggunakan total nilai uang tenaga kerja langsung sebagai
dasar alokasi. Dalam kasus ini, tingkat overhead harus berupa total overhead
manufaktur aktual yang tepat dibagi dengan total nilai uang tenaga kerja
langsung aktual. Karena auditor menguji total
overhead manufaktur sebagai bagian dari pengujian siklus akuisisi dan pembayaran serta menguji tenaga kerja
langsung sebagai bagian dari siklus penggajian dan personalia, penentuan
kewajaran tingkat overhead ini tidaklah sulit. Akan tetapi, jika overhead
manufaktur diterapkan atas dasar jam mesin, auditor harus meverifikasi
kewajaran jam mesin dengan pengujian terpisah terhadap catatan mesin klien.
2.5 Prosedur Analitis
Prosedur analitis merupakan hal yang penting dalam mengaudit siklus
persediaan dan pergudangan, seperti pada semua siklus lainnya. Table 21-1
menunjukkan beberapa prosedur analitis yang umum dan kemungkinan salah saji
yang dapat ditunjukkan ketika terjadi fluktuasi. Kita telah membahas dari
beberapa prosedur analitis tersebut, seperti persentase marjin kotor dalam
hubungannya dengan siklus lainnya.
Selain melaksanakan prosedur
analitis yang memeriksa hubungan saldo akun persediaan dengan akun laporan keuangan
lainnya (seperti ditunjukkan dalam gambar 21-1), auditor seringkali juga
menggunakan informasi non keuangan untuk menilai kelayakan saldo yang berkaitan
dengan persediaan. Sebagai contoh, auditor mungkin perlu mengetahui ukuran dan
bobot produk persediaan, metode penyimpanannya (tumpukkan tangka dan lainnya),
dan kapasitas fasilitas penyimpanan (meter persegi yang tersedia) untuk
menentukan apakah persediaan yang tercatat konsisten dengan tempat penyimpanan
persediaan yang tersedia. Setelah melaksanakan pengujian yang tepat atas
catatan akuntansi biaya dan prosedur analitis, auditor memiliki dasar untuk
merancang serta melaksanakan pengujian atas rincian saldo persediaan akhir.
2.6 Pengujian Terperinci atas Saldo
Persediaan
Keandalan saldo sediaan sangat
ditentukan o;eh keterjadian transaksi. Berikut ini yang didebet dan di
kreditkan kedalam alun piutang usaha.
a.
Transaksi pembelian
b.
Transaksi penjualan
c.
Transaksi pemakaian
Pengujian
subtantif terhadap transaksi Rinci yang mendebit dan mengkredit akun sediaan
dan pengujian pisah batas yang digunakan untuk mencatat transaksi yang
berkaitan dengan akun tersebut.
1.
Periksa sampel transaksi yang
tercatat dalam akun sediaan ke dokumen yang mendukung timbulnya transaksi
tersebut.
2.
Periksa pendebitan akun sediaan ke
dokumen pendukung : bukti kas keluar, faktor pembelian, laporan penerimaan
barang, dan surat order pembelian.
3.
Periksa pengkreditan akun sediaan ke
dokumen pendukung : faktur penjualan, laporan pengiriman barang, bukti
pemakaian barang gudang, memo debit untuk retur pembelian.
4.
Pengujian pisah batas transaksi yang
berkaitan dengan sediaan.
5.
Periksa dokumen yang mendukung
transaksi pembelian dalam minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama
setelah tanggal neraca.
6.
Periksa dokumen yang mendukung
berkurangnya sediaan dalam minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu
pertama setelah tanggal neraca.
2.7 Pengamatan Fisik Persediaan
Karena persediaan sangat bervariasi
untuk perusahaan yang berbeda, maka memahami industri dan bisnis klien merupakan
hal yang lebih penting bagi obsersi fisik persediaan maupun penetapan harga dan
kompilasi persediaan ke timbang sebagian besar bidang audit lainnya. Contoh
pertimbangan kunci yang harus dipertimbangkan auditor termasuk metode penilaian
persediaan yang dipilih oleh manajemen, potensi keusangan persediaan, dan
risiko bahwa persediaan konsinyasi akan tercampur dengan persediaan sendiri.
Pertama auditor sering kali
mengakrabkan diri dengan persediaan klien dengan melaksanakan kunjungan ke
fasilitas persediaan klien, termasuk area penerimaan,penyimpanan, produksi,
perencanaan, dan penyimpanan catatan. Kunjungan tersebut harus dipimpin oleh
seorang penyelia yang dapat menjawab pertanyaan mengenai produksi, terutama
mengenai setiap perubahan pengendalian intel-nal dan proses lainnya sejak
tahun terakhir.
Meskipun memahami pengaruh industri
dan bisnis klien terhadap persediaan, auditor tetap menilai risiko bisnis klieh
untuk menentukan apakah risiko tersebu tmeningkatkan kemungkinan salah saji
yang material datam persediaan. Contoh sumber risiko bisnis yang umum untuk
persediaan termasuk siklus produk yang singkat. potensi keusangan, penggunaan
persediaan just-in-tirne (JIT), ketergantungan pada segelintir pemasok kunci,
dan penggunaan teknologi manajemen persediaan yang canggih.
Setelah menilai risiko bisnis-klien,
auditor menentukan materialitas kinerja dan menilai risiko inheren untuk
persediaan, yang biasanya sangat material bagi perusahaan manufaktur, grosin
dan ritel. Auditor sering menilai risiko inheren yang tinggi untuk perusahaan
yang memiliki persediaan yang signifikan, tergantung pada situasinya. Auditor
sering kali memberikan perhatian yang lebih besar pada salah saji jika
persediaan disimpan di lokasi yang berbeda. Metode kalkulasi biayanya adalah kompleks,
dan potensi keusangan persediaan sangat besar.
Ketika menilai risiko pengendalian,
auditor terutama memperhatikan pengendalian internal terhadap catatan
perpetual, pengendalian fisik, perhitungan persediaan serta penetapan harga dan
kompilasi persediaan. Sifat dan luas pengendalian tersebut sangat bervariasi
dari perusahaan ke perusahaan.
PROSEDUR
ANALISIS UNTUK SIKLUS PERSEDIAAN DAN PERGUDANGAN
|
|
Prosedur
analisis
|
Kemungkinan
Salah Saji
|
Membandingkan
persentase marjin kotor dengan tahun sebelumnya.
|
Lebih saji atau
kurang saji persediaan dan harga pokok perjualan
|
Membandingkan
perputaran persediaan (harga pokok penjualan dibagi dengan persediaan
rata-rata) dengan tahun sebelumnya.
|
Persediaan yang
usang yang mempengaruhi persediaan dan harga pokok penjualan.
Lebih saji atau
kurang saji persediaan.
|
Membandingkan
biaya per unit persediaan dengan tahun sebelumnya.
|
Lebih saji atau
kurang saji biaya per unit, yang mempengaruhi persediaan dan harga pokok
penjualan.
|
Membandingkan
nilai persediaan yang ditambahkan dengan tahun sebelumnya.
|
Salah saji dalam
kompilasi, biaya per unit atau perkalian, yang mempengaruhi persediaan dan
harga pokok penjualan.
|
Membandingkan
biaya manufaktur tahun berjalan dengan tahun sebelumnya (biaya variabel harus
disesuaikan dengan perubahan volume).
|
Salah saji biaya
per unit persediaan, terutama tenaga kerja langsung dan overhead manufaktur
yang mempengaruhi harga pokok
penjuaian.
|
Tujuan Merancang dan Melaksanakan
Pengujian Audit Observasi Fisik Atas Persediaan.
1.
Memperoleh dan mencatat bahan baku
tenaga kerja dan overhead
2.
Mentransfer aset dan biaya secara
internal
3.
Mengirim barang dan mencatat
pendapatan serta biaya
4.
Mengamati persediaan secara fisik
5.
Menetapkan harga dan mengkompilasi
persediaan
2.7.1 Persyaratan Observasi
Persediaan
Standar
auditing mengharuskan auditor untuk menerima efektivitas metode penghitungan
persediaan klien dan ketergantungan yang dapat mereka tempatkan pada
representasi klien mengenai kuantitas serta kondisi fisik persediaan. Untuk
memenuhi persyaratan tersebut, auditor harus:
·
Hadir pada saat klien menghitung
persediaannya untuk menentukan saldo akhir tahun.
·
Mengamati prosedur perhitungan
klien.
·
Mengajukan pertanyaan kepada
personil klien mengenai prosedur perhitungannya.
·
Melakukan penguiian atas perhitungan
fisik independen mereka sendiri
2.7.2
Pengendalian Terhadap Pemeriksaan Fisik
Pengendalian
yang memadai terhadap perhitungan fisik persediaan klien meliputi instruksi
klien yang benar untuk melakukan perhitungan fisik, supervisi oleh personil
perusahaan yang bertanggung jawab, verifikasi internal yang independen atas
perhitungan yang dilakukan oleh personel klien lainnya, rekonsiliasi independen
antara perhitungan fisik dengan file induk persediaan perpetual, dan
pengendalian klien yang memadai terhadap lembar perhitungan atau tag yang
digunakan untuk mencatat perhitungan persediaan.
2.7.3 Keputusan
Audit
Tiga keputusan
terakhir yang akan dibahas berikut, diikuti dengan pembahasan tentang prosedur
audit yang sesuai
1.
Penetapan waktu
Penetapan Waktu Auditor memutuskan apakah perhitungan lisik dapat
dilakukan sebelum akhir tahun terutama atas dasar keakuratan file induk
persediaan perpetual. jika klien melakukan perhitungan fisik interim, yang
hanya akan disetujui auditor apabila pengendalian internalnya efektif, auditor
akan mengamati perhitungan persediaan pada saat itu, dan juga menguji transaksi
yang dicatat datam catatan persediaan perpetual dari tanggal perhitungan hingga
akhir tahun.
2.
Ukuran Sampel
Demi kemudahan ukuran sampel pada observasi fisik dapat
dipertimbangkan datam istilah total jam yang dihabiskan dan bukan jumlah item
persediaan yang dihitung. Determinan kunci atas jumlah waktu yang diperlukan
untuk menguji persediaan adalah kememadaian pengendalian internal terhadap
perhitungan fisik, keakuratan file induk persediaan perpetual total nilai uang
dan jenis persediaan, jumlah lokasi persediaan yang sangat berbeda. sifat dan
luas salah saJi yang ditemukan pada tahun sebelumnya, serta risiko inheren
lainnya.
3.
Pemilihan Item
Pemilihan Item Ketika mengamati klien yang menghitung persediaan,
auditor harus berhati-hati untuk
·
Mengamati perhitungan item-item yang
paling signifikan dan sampdrepresentatif dari item persediaan yang umum.
·
Menyehdiki item yang mungkin telah
usang atau rusak
·
Membahas dengan manajemen menyangkut
alasan mengeluarkan setiap item yang material.
2.7.4 Pengujian
Observasi Fisik
Bagian yang
paling penting dari observasi persediaan adalah menentukan apakah perhitungan
fisik telah dilakukan sesuai dengan instruksi klien. Untuk melakukanhal ini
secara efektiL auditor harus hadir ketika perhitungan fisik dilakukan.
2.8 Audit atas Penerapan Harga dan Kompilasi Persediaan
Auditor harus memverifikasi bahwa perhitungan fisik
atau kualitas catatan perpetual sudah diberi harga dan dikompilasi dengan
benar. Pengujian harga persediaaan
mencakup semua pengujian atas harga per unit klien untuk menentukan apakan hal
itu sudah benar. Pengujian kompilasi persediaan termasuk menguji ikhtisar
perhitungan persediaan klien, menghitung kembali harga dikalikan dengan
kuantitas, memfooting ikhtisar persediaan, dan menelusuri total ke buku besar
umum.
2.8.1
Pengendalian
Penetapan Harga dan Kompilasi
Pengendalian internal yang memadai menyangkut
penelusuran biaya per unit yang diintegrasikan dengan produksi dan catatan
akuntansi lainnya yang menyediakan assurance bahwa klien menggunakan biaya yang
masuk akal untuk menilai persediaan akhir. Catatan
biaya standar yang mengindikasi varians biaya bahan, tenaga kerja, dan
overhead, sangat membantu dalam mengevaluasi kelayakan catatan produksi jika
manajemen memiliki prosedur untuk mempertahankan standar tersebut tetap
mutakhir terhadap perubahan proses produksi dan biaya. Manajemen juga harus
memiliki seorang yang independent dari departemen yang bertanggung jawab
menentukan biaya mereview kelayakannya.
Untuk mencegah mencantumkan atau menyatakan terlalu
tinggi nilai persediaan yang using, bergerak lambat, rusak, dan dinyatakan
terlalu tinggi. Review itu harus dilakukan oleh karyawan yang ahli dalam
meriview file induk perpetual menyangkut perputaran persedaan perpetual
menyangkut perputaran persediaan dan melakukan diskusi dengan para insinyur
atau personil produksi.
Klien memerlukan pengendalian internal atas kompilasi
persediaan untuk memastikan bahwa perhitungan fisik telah diikhtisarkan dengan
benar, diberi dengan benar, serta dicantumkan dalam file induk persediaan
perpetual dan akun persedaiaan di buku besar umum terkait dengan jumalh yang
tepat. Pengendalian internal yang paling penting bagi biaya per unit yang
akurat, perkalian, dan footing adalah verifikasi internal oleh orang yang
independen dan kompeten, yang mengandalkan dokumen serta catatan yang memadai
yang akan digunakan untuk melakukan perhitungan fisik. Jika perhitungan fisik
persediaan dicatat oleh klien pada tag yang telah dipranomori dan diriview
secara hati-hati sebelum personil yang menghitung persediaan dibebaskan dari
pemeriksaan fisik persediaan, risiko salah saji dalam mengikhtisarkan tag
perhitungan persediaan akan rendah.
2.8.2
Prosedur penetapan
Harga dan Kompilasi

Tabel 21-3 menyajikan daftar tujuan audit dan
pengujian terkait untuk penetapan harga serta kompilasi persediaan, kecuali
tujuan pisah batas. Seperti telah kita bahas obsevcasi fisik merupakan sumber
utama informasi pisah batas untuk penjualan dan pembelian. Pengujian atas
catatan akuntansi untuk pisah batas dilakukan sebagai bagian dari penjualan
(siklus penjualan dan penagihan) dan akuisisi ( siklus akuisisi dan
pembayaran).
Auditor dapat menerapkan tujuan dengan menggunakan
informasi yang diperoleh dari klien sebagai kerangka referensi, termasuk
deskripsi setiap item persediaan, kuantitas, harga per unit, dan nilai total.
Kita mengasumsikan bahwa informasi yang direfleksikan dalam listing persediaan
perpetual dicatat sesuai urutan deskripsi item persediaan, dengan bahan baku,
barang dalam proses, dan barang jadi disajikan terpisah. Totalnya harus sama
dengan saldo buku besar umum.
2.8.3
Penialaian
Persediaan
Dalam melakukan pengujian penilaian persediaan (yang
sering kali disebut pengujian penetapan harga), auditor menghadapi tiga
permasalahan. Pertama, metode harus sesuai dengan standar akuntasi,. Kedua,
penerapan metodenya harus konsisten dari tahun ketahun. Ketiga, biaya
persediaan versus nilai pasar (biaya penggantian atau nilai realisasi bersih)
harus dipertimbangkan. Karena metode untuk memverifikasi penetapan harga
persediaan tergantung apakah item persediaan diakuisisi atau dibuat, kedua
kategori tersebut akan dibahas secara terpisah.
Penetapan
Harga Persediaan yang Dibeli jenis persediaan utama
yang termasuk dalam kategori ini adalah bahan baku, suku cadang yang dibeli,
dan perlengkapan. Sebagai langkah pertama dalam memverifikasi penilaian
persediaan yang dibeli, auditor harus menentukan apakah klien menggunakan
metode LIFO, FIFO, rata-rata tertimbang, atau beberapa metode penilaian
lainnya. Auditor juga harus menentukan biaya mana yang akan dilibatkan dalam
penilaian item persediaan. Sebagai contoh, auditor harus menemukan apakah
ongkos angkut, penyimpanan, diskon, serta biaya lainnya akan dilibatkan, dan
auditor juga harus membandingkan temuan itu dengan tahun sebelumnya untuk
memastikan bahwa biaya ditentukan secara konsisten.
Da;am memilih item persediaan spesifik demi penetapan
harga, auditor harus berfokus pada nilai uang yang lebih besar fan pada produk
yang harganya sangat berfluktuasi. Auditor juga harus menguji sample
representative fari semua jenis persediaan dan departemen. Sample variabel
berstratifikasi atau unit moneter merupakan sampling yang umum digunakan bagi
pengujian tersebut.
Auditor harus menyajikan daftar item persediaan yang
akan diverifikasi untuk tujuan penerapan harga dan meminta klien untuk mencari
faktur vendor yang sesuai. Auditor harus memeriksa faktur yang mencukupi untuk
memperhitungkan seluruh kualitas item persediaan yang sedang diuji, terutama
menurut metode penilaian FIFO. Asumsikan bahwa klien menilai suatu item
persediaan sebesar $12,00 per unit untuk 1000 unit, dengan menggunakan FIFO.
Ketika auditor memeriksa sebagian besar faktur terkini menyangkut akuisisi item
persediaan tersebut, dia menemukan bahwa akuisisi paling tekini atas item
persediaan pada tahun yang sedang diaudit tenyata sebanyak 700 unit pada $12,00
per unit, sementara akuisisi sebelumnya sebanyak 600 unit pada $11,30 per unit.
Dengan menggunakan Teknik penilaian FIFO yang benar, item persediaan harus
dicatat sebesar $11.790 (700 unit pada $12 dan 300 pada $11,30). Perhitungan
klien menyatakan terlalu tinggi persediaan sebesar $210,00 ($12.000 - $11.790).
dengan asumsi klien melakukan kesalahan yang sama ini pada banyak item
persediaan, jumlah salah saji dapat menjadi material.
Jika klien memiliki file induk persediaan perpetual yang mencakup biaya per unit akuisisi, biasanya jauh lebih cepat menguji penetapan harga dengan menelusuri peaya per unit ke pesediaan perpetual keimbang ke faktur vendor. Secara alami, jika catatan persediaan perpetual digunakan untuk memverifikasi biaya per unit, auditor harus menguji biaya per unit yang dicatat dalam catatan perpetual dengan faktur vendor sebagai bagian dari pengujian atas transaksi siklus akuisisi dan pembayaran.
Jika klien memiliki file induk persediaan perpetual yang mencakup biaya per unit akuisisi, biasanya jauh lebih cepat menguji penetapan harga dengan menelusuri peaya per unit ke pesediaan perpetual keimbang ke faktur vendor. Secara alami, jika catatan persediaan perpetual digunakan untuk memverifikasi biaya per unit, auditor harus menguji biaya per unit yang dicatat dalam catatan perpetual dengan faktur vendor sebagai bagian dari pengujian atas transaksi siklus akuisisi dan pembayaran.
Penetapan
Harga Persediaan yang Dibuat pada penetapan harga
barang dalam proses dan barang jadi, auditor harus mempertimbangkan biaya bahan
baku, tenaga kerja langsung, dan overhead manufaktur. Keharusan untuk
memverifikasi setiap hal tersebut membuat audit atas persediaan barang dalam
proses dan barang jadi menjadi lebih kompleks ketimbang audit atas persediaan
yang dibeli. Akan tetapi, beberapa pertimbangan yang ditetapkan pada audit atas
persediaan yang dibeli masih dapat digunakan, seperti pemilihan item yang akan
diuji, pengujian apakah biaya atau nilai pasar yang lebih rendah, dan
pengevaluasian kemungkinan keusangan.
Dalam menetapkan harga bahan baku untuk membuat
produk, auditor harus mempertimbangkan baik biaya bahan per unit maupun jumlah
unit yang diperlukan untuk membuat unit output. Biaya per unit dapat
diverifikasi dengan cara yang sama seperti yang digunakan untuk persediaan yang
dibeli lainnya, dengan memeriksa faktur vendor atau file induk persediaan
perpetual. Auditor harus memeriksa spesifikas rekayasa, memeriksa barang jadi,
atau menemukan metode yang serupa guna menentukan jumlah unit yang diperlukan
untuk membuat suatu produk.
Demikian juga, ketika menguji tenaga kerja langsung,
auditor harus memverifikasi biaya per jam tenaga kerja langsung dan jumalah jam
yang diperlukan untuk membuat suatu unit output. Biaya tenaga kerja per jam
dapat diverifikasi dengan memeriksa kontrak penggajian tenaga kerja atau
serikat kerja. Auditor dapat menentukan jumlah jam yang diperlukan untuk
membuat produk dari spesifikasi rekayasa atau sumber serupa.
Overhead menufaktur yang sesuai bagi barang dalam
proses dan barang jadi tergantung pada pendekatan yang digunakan klien untuk
mengalokasikan overhead manufaktur. Auditor harus mengevaluasi metode yang
sedang digunakan menyangkut konsistensi dan kelayakan serta menghitung ulang
biaya untuk menentukan apakah overhead sudah benar. Sebagai contoh, jika
tinggatnya didasarkan pada nilai uang tenaga kerja langsung, auditor dapat
membagi total overhead manufaktur dengan total nilai uang tenaga kerja langsung
untuk menentukan tingkat overhead actual. Tingkat ini kemudia dapat
dibandingkan dengan tingkat overhead yang digunakan oleh klien untuk menentukan
biaya per unit. Pengujian atas penetapan harga barang dalam proses dan barang
jadi sering kali dilakukan bersamaan dengan pengujian biaya standar. Jika
auditor telah menguji biaya standar dengan hasil yang memuaskan, mereka dapat
membatasi pengujian atas biaya per unit persediaan akhir ketika menelusuri
harga yang digunakan untuk menilai persediaan akhir ke catatan biaya standar.
Jika klien memiliki catatan biaya standar, metode yang
efisien dan bermanfaat untuk menentukan penilaian adalah mereview serta
menganalisis varians. Varians bahan, tenaga kerja, dan overhead manufaktur yang
kecil merupakan bukti keandalan catatan biaya tersebut.
Harga
Pokok atau Harga Pasar. Dalam menetapkan harga persediaan, auditor
harus mempertimbangkan apakah biaya penggantian atau nilai realisasi bersih
yang lebih rendah dari biaya historis. Untuk barang jadi dan bahan baku yang
dibeli, auditor dapat menguji biaya penggantian dengan memeriksa faktur vendor
periode selanjutnya atau faktur saat ini jika tidak ada pembelian yang
dilakukan atas item persediaan setelah akhir tahun. Semua biaya manufaktur
harus dipertimbangkan ketika mengevaluasi nilai realisasi dalam proses dan
barang jadi untuk persediaan yang akan diabuat. Auditor harus mempertimbangkan
nilai penjualan item persediaan dan dampak yang mungkin dari fluktuasi harga
yang cepat untuk menentukan nilai realisasi bersih.
2.9
Integrasi Pengujian

Gambar 21-4 dan pembahasannya mengikhtisarkan serta
mengilustrasikan audit atas siklus persediaan dan pegudangan sebagai
serangkaian pengujian yang terintegrasi.
Pengujian
Siklus Akuisisi dan Pembayaran. Ketika memverifikasi
akuisisi persediaan sebagai bagian dari pengujian siklus akuisisi dan
pembayaran, auditor juga memperoleh bukti mengenaik keakuratan bahan yang
diperoleh dan semua biaya overhead manufaktur yang dikeluarkan kecuali tenaga
kerja. Biaya akuisisi tersebut mengalir secara langsung ke harga pokok
penjualan atau menjadi bagian terbesar dari persediaan akhir bahan baku, barang
dalam proses, dan barang jadi. Dalam audit diaman klien memiliki file induk
persediaan perpetual, auditor sering kali menguji halk tersebut sebagai bagian
dari prosedur pengujian pengendalian serta pengujian subtantif atas transaksi
yang telah dilakukan dalam suklus akuisisi dan pembayaran. Demikian juga, jika
biaya manufaktur dibebankan kepada setiap pekerjaan atau proses, hal itu
biasanya diuji sebagai siklus yang sama.
Pengujian
Siklus Penggajian dan Personalian. Ketika auditor
memverifikasi biaya tenaga kerja, kondisi yang sama juga berlaku seperti untuk
akuisisi dalam sebagian besar kasus, catatan akuntansi biaya untuk biaya tenaga
kerja langsung dan tidak langsung dapat diuji sebagai bagian dari audit siklus
penggajian dan personalia.
Pengujian
Siklus Penjualan dan Penagihan. Hubungan antara siklus
penjualan dan penagihan serta siklus persediaan dan pergudangan tidak seat
seperti dua siklus yang baru saja kita bahas akan tetapi, sebagian besar pengujian
audit atas penyimpanan barang jadi, serta pengiriman dan pencatatan penjualan
dapat dilakukan ketika siklus penjualan dan penagihan diuji. Jika klien
menggunakan catatan biaya standar, auditor mungkin bias menguji harga pokok
penjualan standar bersamaan dengan dilaksanakannya pengujian penjualan.
Pengujian
Akuntansi Biaya. Pengujian atas catatan akuntansi biaya
merupakan sarana untuk memverifikasi pengendalian yang mempengaruhi persediaan
karena auditor tidak memverifikasi sebagai bagian dari pengujian atas ketiga
siklus sebelumnya. Auditor menguji pengendalian fisik, transfer biaya bahan
baku ke barang dalam proses, transfer biaya barang yang telah selesai ke barang
jadi, file induk persediaan perpetual, dan catatan biaya per unit.
Persediaan
Fisik, Penetapan Harga, dan Kompilasi. Persediaan fiksik,
penetapan harga, dan kompilasi sama pentingnya bagi audit persediaan karena
salah saji dalam salah satu aktivitas dapat menyebabkan persediaan dan harga
pokok penjualan disalahsajikan. Dalam sebagian besar audit, harga pokok
penjualan adalah nilai residu dari persediaan awal ditambahkan akuisisi bahan
baku, tenaga kerja langsung dan biaya manufaktur lainnya dikurangi persediaan
akhir. Karena harga pokok penjualan merupakan nilai residu dan seringkali menjadi
akun terbesar pada laporan laba rugi, maka arti penting mengaudit persediaan
akhir menjadi semakin nyata.
Dalam menguji persediaan fisik, auditor mungkin sangat
tergantung pada file induk persediaan perpetual jika file itu telah diuji
sebagai bagian dari salah satu atau lebih siklus yang telah kita bahas dan
dianggap dapat diandalkan jika itu masalahnya, auditor dapat mengamati dan
menguji perhitungan fisik pada waktu selain akhir tahun dan mengandalkan file
perpetual untuk menyimpan catatan kuantitas yang memadai.
2.10
Contoh Kasus Persediaan dan Pemeriksaan Fisik
Dua sahabat; Suzette Washington (SW) dan Paula Kaye
(PK) bekerja pada sebuah toko pakaian bernama Bertolini’s, yang melayani
pakaian remaja pria dan wanita. Keduanya masih berstatus sebagai mahasiswa di
sebuah perguruan tinggidi Amerika Tenggara, yang letaknya tidak jauh dari
Bertolini’s. Suzette Washington(SW) adalah seorang mahasiwa jurusan akuntansi,
sedangkan Paula Kaye (PK)kuliah di jurusan pemasaran. Di Bertolini’s, Suzette
Washington (SW) bekerja sebagai karyawan di bagian persediaan, sedangkan Paula
Kaye (PK) sebagai karyawan di bagian pemasaran. Dalam perusahaan tersebut,
selain bagian personalia, hampir seluruh karyawannya masih berstatus sebagai
mahasiwa. Suatu ketika, perusahaan mulai mengalami penyusutan jumlah persediaan
pakaian pria pada tiga departemen. Supervisor SW, yang merupakan asisten manajer
toko, yakin bahwa ada karyawan bagian penjualan yang telah melakukan pencurian.
Dari rumor yang beredar di perusahaan, terdapat dua orang karyawan, yaitu Alex
(Al) dan Matt (M), sebagai pelaku pencurian tersebut. Alex dan Matt mencuri
beberapa barang setiap minggunya, yaitu berupa polo shirt, dasi sutera, jean,
dan terkadang juga beberapa barang mahal seperti sweater rajut dan jaket sport.
Modus pencurian diketahui bahwa Alex menyembunyikan satu atau dua barang di
dasar tong sampah di bawah cash register nomor 2. Selanjutnya, Matt, yang
setiap malam bertugas membuang sampah ke luar, mengambil barang-barang yang
disembunyikan tersebut dan menyimpan di mobilnya. Atas rumor tersebut, Suzette
Washington (SW) akan melaporkan ke manajemen perusahaan, namun Paula Kaye (PK)
tidak sependapat, dengan alasan hal itu hanya berupa rumor, tidak tahu apakah
hal itu benar atau tidak. Apabila dilaporkan ke manajer, akan menimbulkan
banyak pertanyaan, dan akan melibatkan polisi. Bahkan pada akhirnya orang akan
menemukan siapa yang mengatakan. Namun demikian, sebulan kemudian, manajemen
memperoleh surat kaleng yang menyebutkan adanya dua orang pencuri dalam toko
tersebut. Atas hal tersebut, Bertolini’s menyewa detektif untuk menyelidiki
masalah tersebut. Setelah dilakukan penyidikan diketahui bahwa memang pencurian
dilakukan oleh Alex dan Matt, dengan total nilai pakaian yang dicuri selama
lebih dari empat minggu adalah sebesar $500. Atas permasalah tersebut dapat
diketahui bahwa:
a. Bertolini’s
merupakan toko pakaian dengan skala besar, dan tentu saja mempunyai karyawan
yang banyak pula. Selain bagian personalia, sebagian besar karyawannya adalah
mahasiswa. Dengan demikian, karyawan yang berstatus mahasiwa bukan merupakan
karyawan tetap, sehingga memungkinkan kurangnya loyalitas karyawan terhadap
perusahaan. Dimana hal ini dapat terjadi karena mahasiswa yang bekerja di
Bertolini’s, tujuan utamanya mencari penghasilan untuk membiayai kuliah. Dengan
demikian, rasa memiliki terhadap perusahaan sangatlah kecil, atau bahkan tidak
ada. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya keinginan dan keberanian dari
karyawan yang mengetahui adanya kecurangan dalam perusahaan untuk
mengungkapkannya kepada manajemen perusahaan.
b. Sistem
pengendalian pada perusahaan masih sangat lemah. Hal ini diketahui dari adanya
penyusutan jumlah persediaan barang yang tidak wajar, yang tidak segera
diketahui oleh manajemen. Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian persediaan
barang pada perusahaan serta pengendalian pendapatan masih sangat lemah. Dimana
persediaan barang yang berkurang tidak seimbang dengan jumlah barang yang
terjual.
c.
Pihak manajemen perusahaan kurang tanggap
terhadap permasalahan yang ada. Dimana ditunjukkan dengan adanya rumor
pencurian oleh karyawan, bahkan sudah diketahui pula modusnya, namun tidak
segera ditindaklanjuti oleh pihak manajemen. Namun, setelah mendapat surat
kaleng, barulah manajemen mulai bertindak. Sikap kehati-hatian manajemen
tersebut mengakibatkan manajemen kurang peka terhadap permasalahan dalam
perusahaan
Pembahasan
a.
Bila berada dalam situasi seperti
yang dialami oleh Suzette Washington (SW) , maka hal yang akan dilakukan adalah
segera melaporkan kepada manajemen dan supervisor yang bertindak sebagai
asisten manajer toko. Karena pencurian terhadap persediaan yang terjadi adalah
material jumlahnya. Semakin cepat pencurian tersebut diketahui, akan semakin
cepatpula pengendalian internal diperbaiki dan aktiva perusahaan diamankan.
Jikahal tersebut dibiarkan dan tidak dilaporkan maka lama kelamaan akan dapat menyebabkan
kerugian.
b.
Sangat tepat apabila Suzette
Washington (SW) segera melaporkan pencurian tersebut kepada manajer toko. Hal
itu bukan merupakan hal yang tidak etis, namun merupakan tindakan dalam rangka
menjaga etika profesional seorang pegawai terhadap perusahaan dimana ia bekerja
selain itu agar going concern
perusahaan tetap terjaga. Hendaknya karyawan loyal terhadap perusahaan atau
tempat dimana dia bekerja. Dalam etika professional terdapat prinsip-pinsip
yaitu tanggung jawab, kepentingan publik, integritas, objektivitas dan
independensi, kecermatan dan keseksamaan, lingkup dan sifat jasa.
c.
Bagian Accounting mempunyai tanggung
jawab besar karena berhubungan dengan keuangan dimana dia bertugas untuk
mencatat, mengidentifikasi sampai dengan melaporkannya. Oleh karena itu
hendaknya haruslah orang yang jujur dan bertanggungjawab agar tidak melanggar
etika atau terjadi manipulasi terhadap laporan keuangan perusahaan sehingga
kredibilitas perusahaan dapat tetap terjaga. Dalam sebuah perusahaan accounting
akan menyusun neraca, laporan rugi laba, laporan perubahan modal dan arus kas. Dimana
nantinya laporan keuangan tersebut akan dipublikasikan dan digunakan oleh
pengguna laporan keuangan yaitu manajemen, karyawan,bank, kreditur, investor,
pemerintah dll.
d.
Bertolini mempunyai pengendalian intern
yg kurang baik. Seharusnya :
-
Ada pencatatan terhadap keluar
masuknya persediaan
-
Penyimpanan persediaan dan
penggunaan gudang atau ruang yang terkunci dengan akses yang terbatas pada
orang-orang yang diberi otorisasi saja merupakan hal yang penting dalam
melindungi aktiva dan untuk meminimalkan terjadinya pencurian.
-
Seharusnya dilakukan perhitungan
persediaan dan pengecekan jumlah barang di setiap hari atau setiap minggu
(secara periodik) yang independen, pembandingannya dengan catatan tentang
jumlah dan kepemilikan. Hal itu dilakukan agar jika terjadi ketidaksesuaian
antara kuantitas pesediaan yang tercatat dengan kuantitas yang ada ditangan
(terjadi kehilangan inventori) dapat terdeteksi sedini mungkin.
-
Komputer mengecek kesesuaian antara
catatan tambahan dan akun-akun pengendali karena nilai yang tercatat persediaan
dalam buku besar pembantu atau file induk mungkin tidak sesuai dengan akun-akun
pengendali (untuk menjaga kebenaran saldo persediaan)
-
Di adakannya Inspeksi kondisi
persediaan secara periodik, laporan aktivitas persediaan periodik untuk
menelaah kinerja manajemen. Hal ini dilakukan untuk menghindari pencatatan
persediaan dengan jumlah yang melebihi nilai pasar
-
Tingkat manajemen yang berwenang
memantau tingkat produksi, biaya produksi dan kewajaran tingkat persediaan
dibandingkan dengan volume penjualan. Hal ini perlu dilakukan karena manajemen
mungkin tidak bertanggungjawab atas sumberdaya persediaan sehingga menimbulkan
berbagai salah saji dalam laporan keuangan
-
Proteksi terhadap barang dalam
proses dapat dilakukan dengan mengawasi daerah produksi oleh penyelia dan
petugas keamanan perusahaan, pemberian label pada barang dan penggunaan tiket perpindahan
bernomor urut untuk mengendalikan perpindahan barang dalam proses di sekitar
perusahaan
2.11 Contoh Berita Acara Pemeriksaan Persediaan (BAP)
BERITA
ACARA PEMERIKSAAN PERSEDIAAN

BAB III
KESIMPULAN
Audit atas persediaan adalah bagian
yang paling kompleks dan menghabiskan waktu dalam audit, karena hal-hal berikut
:
-
Persediaan adalah bagian
utama dalam neraca, dan seringkali merupakan akun terbesar yang melibatkan
modal kerja.
-
Persediaan dapat terbesar di
beberapa lokasi yang menyulitkan perhitungan dan pengendalianfisik. Perusahaan
menempatkan persediaannya sedemikian rupa untuk efesiensi produksi dan
penjualan, tetapi penyebaran ini sering menimbulkan kesulitan auditor yang
besar.
-
Bermacam ragam persediaan juga
menyulitkan auditor. Barang-barang seperti perhiasan, bahan kimia, suku cadang
elektronik sering menyulitkan pengamatan dan penilaian.
-
Penilaian persediaan juga
dipersulit oleh faktor keusangan dan perlunya mengalokasikan biaya manufaktur
ke persediaan.
-
Ada beberapa metode penilaian
persediaan yang dapat diterima, tapi klien harus memakai metode tersebut secara
konsisten dari tahun ke tahun terlebih lagi sering perusahaan menggunakan
metode penilain persediaan yang berada untuk jenis persediaan yang berbeda.
DAFTAR
PUSTAKA
Audit Kontemporer. Theodorus M. Tuankota-Jakarta, Salemba
Empat, 2015.
Randal J. Elder., Mark S. Beasley., Arens Alvin A., 2014.
Auditing and Assurance Servise : An Integrated Approach. 15th.
DAFTAR PERTANYAAN
Risha Zulfikar (011401325)
Hal penting apa saja yang
harus diperhatikan dalam perhitungan fisik persediaan?
Silvia istimeirianti (0116101425)
Kaitan antara persediaan
dan pergudangan., kesulitan apa saja yang dialami oleh auditor dalam
persediaan, salah saji seperti apa yang dapat terjadi dalam mengaudit
persediaan dan pergudangan?
Krishelda Gloris P (0116101420)
Dalam siklus ini pasti
terdapat resiko bisnis klien. Proses apa yg perlu diimplementasikan auditor
agar dapat meminimalisir risiko bisnis klien?
Sani Sanjaya (0116101436)
Apabila pergudangan klien
mengalami kebakaran, apakah auditor perlu melakukan observasi fisik untuk
pelaksanaan audit atas siklus persediaan dan pergudangan. Fisik apa yang diamati
untuk dapat memastikan bahwa fisik sebelum kebakaran dengan dokumen sesuai?
Nisa Nadhira (0116101441)
Banyak auditor menyatakan
bahwa pengujian audit tertentu dapat dikurangi secara signifikan bagi klien
yang memiliki catatan perpetual yang memadai, pengujian mana yang dapat
dikurangi oleh auditor?
Teta Sakti Paly (0118121005)
Bagaimana cara mengaudit
persediaan yang rusak/using/kadaluarsa?
Aditya Salman F (0118121008)
Didalam tahap memadukan pengujian, bagian mana yang paling
butuh diperhatikan oleh auditor? Dan contoh kecurangan apa yang mungkin terjadi
di dalamnya sehingga butuh untuk diperhatikan lebih dibanding yang lain?





Tidak ada komentar:
Posting Komentar